Makalah Ilmu Dakwah  

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya sehingga kami dan kalian semua masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan serta membahas makalah ini.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan dan membuka lebar mata kita semua dari zaman jahiliyyah menuju zaman yang terang benderang yakni addinul Islam.

Tak lupa kepada bapak dosen yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang diberikan oleh beliau. Terima kasih juga kepada segenap teman-teman seperjuangan yang ikut membantu penyelesaian tugas makalah ini.


Daftar isi

Kata Pengantar

Daftar Isi.........

Pendahuluan....

BAB I Sejarah Dakwah sebelum masa Nabi Muhammad SAW..............

BAB II Sejarah Dakwah pada masa Nabi Muhammad SAW..............

A. Keadaan masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW..

B. Dakwah Nabi Muhammad SAW Sebelum Hijrah..

C. Dakwah Nabi Muhammad SAW Setelah Hijrah..

Kesimpulan.....

Daftar pustaka.


PENDAHULUAN

Sejarah dakwah dimulai sejak zaman dulu yaitu sebelum zaman Nabi Muhammad SAW atau zaman nabi-nabi sebelumnya hingga zaman Nabi Muhammad SAW dan seterusnya sampai sekarang

Sebelum membahas lebih jauh mengenai sejarah dakwah perlu diketahui terlebih dahulu tentang arti dari sejarah dakwah. Sejarah menurut kamus teologi adalah penulisan dan studi mengenai peristiwa penting dalam hidup manusia dalam tingkat lokal, nasional, internasional, maupun global. Sedangkan dakwah menurut pengertian bahasa (lugat) berarti teriakan (As-Shaihatu) dan seruan (An-Nida), menurut istilah ilmu dakwah mengarahkan pikiran dan akal manusia kepada sesuatu pemikiran/akidah dan mendorong mereka untuk menganutnya atau menyampaikan pesan Islam kepada manusia di setiap waktu dan tempat dengan berbagai metode dan media yang sesuai dengan situasi dan kondisi para penerima pesan dakwah. Berdakwah artinya mempropogandakan suatu keyakinan, menyerukan suatu pandangan hidup, iman dan agama.[1]

Pernahkah terpikir pada diri kita mengapa Islam belum menjadi agama yang menyeluruh dilakukan oleh umat manusia? Padahal Islam membawa ketenangan dan kedamaian dalam diri? Diantara sekian banyak alasan tentunya salah satu alasan paling menonjol adalah ketidakberhasilan seorang Dai menyampaikan amanat Allah secara benar. Dan jika ditelaah lebih lanjut salah satu penyebab kegagalan seorang DAI adalah kurangnya pengetahuan di berbagai macam disiplin ilmu dan kurangnya pengetahuan mengenai isi yang disampaikan.

Sejarah mengenai perang penting dalam keberhasilan seseorang DAI untuk menyampaikan amanat Allah. Oleh karena itu seorang DAI harus mengerti sejarah, karena sejarah berperan dalam memperluas alam pikiran dan guna dapat membuat perbandingan antara agama dan kejadian-kejadian dahulu dengan sekarang.

Dalam makalah ini yang akan dibahas adalah sejarah dakwah mulai dari asal mula dakwah sampai kepada dakwah pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Pokok-pokok pikiran:

1. Sejarah dakwah seblum masa Nabi Muhammad SAW

2. Sejarah dakwah pada zaman Nabi Muhammad SAW

- Sebelum Hijrah

- Sesudah Hijrah


BAB I

Sejarah Dakwah Sebelum Masa Nabi Muhammad SAW

Dakwah sudah dimulai pada zaman nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Allah mengirimkan Rasul kepada umat manusia dan menyampaikan agama Islam sebagai agama yang benar yang memperbaiki akhlak serta akidah umat-umat terdahulu pada zamannya.

Diantara sekian banyak Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk berdakwah ada 7 nama Nabi yang disebutkan dalam al-Qur'an sebagai Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan amanah-Nya kepada kaumnya diantaranya: Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Soleh, Nabi Luth, Nabi Syuai, Nabi Musa dan Nabi Isa.

Para nabi membawa sejarah dakwah mereka sendiri-sendiri sebgai pelajaran bagi umat saat ini.

Pada hakikatnya agama yang dibawa oleh para rasul sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah disebut agama Islam, baik agama yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS, maupn Isa AS. Dan Nabi Ibrahim yang dipandangans ebgai bapak agama itu mengaku, bahwa ia adalah seorang muslim (musliman), penganut Islam. Demikianlah bahwa agama yang diakui Tuhan di atas muka bumi ini sejak dari zaman purba kala sampai akhir zaman nanti adalah hanya satu, karena Tuhan Allah sendiri adalah satu, Maha Esa pula.

Agama-agama kuno itu yang dibawa oleh Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW diberikan oleh Tuhan ajaran-ajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka masing-masing kepada umat mana rasul-rasul itu diutus oleh Tuhan. Jadi sifat agama-agama itu adalah lokal dan nasional serta terbatas kepada zaman-zaman tertentu yang sesuai dengan lingkungan dan peradaban mereka pula dan kemudian setelah terjadi penyimpangan-penyimpangan di sana-sini dari ajaran-ajaran Rasul itu semula, maka Tuhan mengutus Rasul demi Rasul yang baru untuk membetulkan kembali kesalahan-kesalahan itu. Demikianlah keadaan itu berlaku sampai zaman Nabi Musa, Isa dan Nabi Muhammad SAW. Dan pada syari'at Nabi Muhammad lah agama itu disempurnakan sedemikian rupa sehingga agama itu mampu bertahan sampai akhir zaman tanpa mengalami perubahan lagi. Jadi sifat agama Islam yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sesuai dengan kemajuan berfikir dan kebudayaan umat manusia, yang bersifat universal dan internasional, umum untuk semua guna buat segala bangsa dan untuk dianut sepanjang zaman. Jadi bukan hanya terbatas untuk kaum dan zaman tertentu seperti agama-agama sebelumnya.[2]

Hal ini terbukti dengan terdapatnya perbedaan lafal bunyi firman Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan dihadapkan kepada nabi-nabi sebelumnya yang menjelaskan misi mereka dan caranya mereka menghadapkan dakwahnya. Perhatikanlah bunyi ayat-ayat Al-Qur'an seperti di bawah ini:

  1. Tentang Nabi Nuh AS:

"Telah kami utus Nuh AS kepada kaumnya" (Al-A'raf: 59)

  1. Tentang Nabi Hud AS:

"Kepada kaum 'Aad telah kami utus Hud AS saudara mereka" (Al-A'raf: 65)

  1. Tentang Nabi Soleh AS

"Kepada aum Saud telah kami utus Soleh AS saudara mereka". Ia berkata: Hai kaumku! Sembahlah Allah tak ada Tuhan bagi kamu yang lain dari Dia" (Al-A'raf: 73)

  1. Tentang Nabi Luth AS:

"Ketika berkata Luth AS kepada kaumnya" (Al-A'raf: 80)

  1. Tentang Nabi Syu'aib AS:

"Kepada kaum Madyan, saudara mereka Syu'aib AS" (Al-A'raf: 85)

  1. Tentang Nabi Musa AS:

"Ketika Musa AS berkata kepada kaumnya: "Kenapa kamu menyiksa saya?" (As-Shaf: 5)

  1. Tentang Nabi Isa AS:

"Dan ketika berkata Isa AS anak Maryam: "Hai bani Israil, aku adalah utusan Allah kepada kamu semua" (As-Shaf: 6)

Dimanapun juga semua Nabi selalu mendapat perlawanan dari kaumnya yang tidak mau percaya kepada Nabi dan Rasul mereka. Dan kaum yang tidak mau beriman itu selalu dihukum oleh Allah dengan azab yang sangat berat, seperti kaum Nabi Nuh yang tidak mau percaya dihukum Allah dengan banjir besar (Q.S. Al-A'raf: 64). Kaum 'Ad yang kafir kepada Nabi Hud dihukum oleh Alah dengan angin yang sangat mengerikan selama 7 malam 8 hari (Q.S. Adz-Dzariyat; 41-42, Q.S. Al-A'raf: 72). Kaum Nabi Luth yang melakukan Homoseksual dihukum Allah dengan hujan batu (Q.S. Al-A'raf: 78). Kemudian kepada kaum Tsamud yang melawan Nabi Shalih dihukum oleh Allah, dengan gempa bumi (Q.S. Al-A'raf: 84). Serta kaum Nabi Syu'aib yang kufur kepadanya dihukum pula oleh Allah dengan azab yang berupa gempa bumi yang sangat dahsyat (Q.S. Al-A'raf: 91).[3]

1) Kaum Bani Israil

Kesesatan dan kekufuran ini bukan hanya melanda bangsa Arab saja, tetapi kaum Bani Israil dan kaum Yahudi-pun juga melakukan penyelewengan dari ajaran nabi-nabi mereka. Kaum Yahudi itu telah berbuat keterlaluan, seperti mengubah ayat-ayat kitab suci Taurat (Q.S. Al-Baqarah: 75; Q.S. At-Taubat: 30). Mereka ini juga mendewa-dewakan para imam dan pendetanya, sehingga Al-Qur'an menilai kaum Yahudi itu sudah mengambil imam dan pendetanya sebagai Tuhan selain Allah dan Isa Al-Masih (Q.S. At-Taubat: 31). Mereka sudah berani membelokkan ayat-ayat kitab suci dengan berdusta atas nama Allah (Q.S. Ali Imran: 78), dan juga mreka suka memakan harta haram (Q.S. At-Taubat: 34).

2) Kaum Nasrani

Menurut kepercayaan Islam agama Nasrani itu asalnya adalah agama yang dibawa oleh Nabi Isa, yang mengajarkan agama Tauhid, bahwa Tuhan itu Maha Esa. Menurut Al-Qur'an Nabi Isa itu mengajak kaumnya untuk menyembah Allah tidak menyembah yang lain (Q.S. Maryam: 36; Q.S. Al-Maidah: 117). Akan tetapi berhubungan dengan kuatnya perlawanan kau yang kafir, maka ajaran Nabi Isa itu tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga ajaran Nabi Isa sering tercampur dengan ajaran-ajaran kafir, bahkan diubah sama sekali menjadi agama polities. Agama dari Nabi Isa itu diambil oper dan diubah dari menyembah hanya kepada Allah diganti bertuhan kepada Nabi Isa, mereka mengangkat Nabi Isa menjadi Tuhan dengan lambang kepercayaan kepada Tritunggal, yaitu menyembah Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Tuhan Roh Kudus (Q.S. Al-Maidah: 72-73).[4]


BAB II

Sejarah Dakwah Pada Masa Nabi Muhammad SAW

A. Keadaan masyarakat Islam pada masa Nabi Muhammad SAW

Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, dilahirkan (tahun 570 M, menurut ahli sunnah) di kota Makkah[5] dan merupakan keturunan bangsa Arab.

Bangsa Arab merupakan suatu kelompok bangsa Semit, yaitu suatu bangsa keturunan Nabi Nuh melalui puteranya yang bernama Sam, yang kemudian bertambah dengan keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Isma'il.

Disebabkan karena lewatnya waktu yang cukup lama ditinggal Nabi mereka, maka ajaran para Nabi atau Rasul itu menderita rembesan faham-faham syirik, sehingga banyak manusia yang tersesat dari agama Allah serta menyeleweng dari ajaran yang sudah ditinggalkan Nabi (Q.S. Maryam: 59; Q.S. Al-Maidah: 77; Q.S. Al-Baqarah: 75). Orang-orang Arab jahiliyah mestinya beragama menurut agama Ibrahim, kemudian terjadi kekosongan dari tuntunan Nabi dalam waktu yang lama sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai Fatratun minarrusul (فَتْرَةٌ مِنَ الرُّسُلِ) maka masyarakat Arab jahiliyah itu menjadi musyrik penyembah berhala (Q.S. Al-Maidah: 19).

Jadi orang0orang Arab itu dinamakan jahiliyah bukan disebebakan karena bodoh-nya, akan tetapi mereka disebut Jahiliah disebabkan oleh perbuatannya yang persis seperti orang-orang bodoh, tidak toleran dan tidak adanya rasa tasamuh serta tidak mau untuk berlapang dada, mereka melakukan suatu langkah dan tindakan lebih didasarkan atas sentimen dan emosi, mereka suka membangga-banggakan diri, suka menghina, lekas marah dan suka bermusuhan.[6]

B. Dakwah Nabi Muhamamad SAW sebelum hijrah

  1. Berdakwah secara sembunyi-sembunyi

Setelah turun ayat Allah al-Mudatsir: 1-7 dimulailah tugas Nabi Muhammad untuk berdakwah, Nabi Muhammad memulai dakwahnya dengan sembunyi-sembunyi, dimulai dari orang yang terdekat dari keluarga, lalu sahabat dan kemudian orang-orang baik yang dikenalnya.

Pada fase awal perjalanan dakwah Rasul di Mekkah perhatian utamanya adalah memperbaiki akidah, membersihkannya dan mendidik jiwa dengan melepaskannya dari sifat-sifat tidak terpuji, sehingga hati orang-orang saat itu dapat menyatu untuk sama-sama mengesakan Allah dan menghilangkan sisa-sisa kejahilan dari jiwa mereka.[7]

  1. Berdakwah secara terang-terangan

Mula-mula Allah memerintahkan Nabi agar berdakwah di lingkungan keluarga dan kemudian meluas kepada sahabat. Allah memuji kebijakan, keberanian dan keikhlasan beliau dalam berdakwah.

Dan setelah itu dimulailah dakwah Nabi secara terang-terangan yang dimulai dari keberanian beliau ketika berseru di bukit Shafa. Hal ini tentu saja membuat orang-orang kafir Quraisy sangat geram dan mereka melakukan berbagai macam upaya untuk menghalangi dakwah Nabi diantaranya dengan:

- Mendatangi Abu Thalib

- Bernegosiasi dengan Nabi

- Merintangi, mencaci dan menyiksa Nabi

- Memperlakukan Nabi sewenang-wenang

- Memboikot Umat Islam[8]

Sementara itu Nabi dan umat Islam terus mendapat tekanan dari pihak Quraisy, kondisi inilah yang mengharuskan Nabi memilih keluar dari Makkah untuk berhijrah.

  1. Dakwah Nabi setelah Hijrah

Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah masyarakat di negeri ini belum mempunyai kesatuan akidah. Mereka adalah penduduk heterogen dan hidup dalam perpecahan. Secara garis besar masyarakat Madinah pada saat itu terbagi tiga kelompok:

    1. Umat Islam, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj, dan Muhajirin.
    2. Kaum Musyrikin, terdiri dari kelompok Aus, Khosroj, dan kelompok lain tapi belum masuk Islam.
    3. Yahudi, terdiri dari beberapa kabilah seperti bani Qoinuqa yang berafiliasi dengan Khosroj, Bani Nadir dan Quroidzah yang bergabung dengan Aus.

Aus dan Khosroj adalah dua kelompok yang sejak Zaman Jahiliyah hidup bermusuhan sehingga diantara keduanya sering terjadi peperangan. Ketika Rasululah datang ke Madinah mereka tetap bermusuhan.

Nabi SAW dapat mengatasi perpecahan tersebut melalui sikap bijaknya yang agung dan siasatnya yang tepat. Beliau melakukan langkah-langkah perbaikan seperti berikut:

a. Membangun Masjid

b. Mengajak kaum yahudi kepada Islam

c. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar

d. Memberikan pendidikan

e. Menyusun aturan bermasyarakat antara umat Islam dan kaum Yahudi[9]


KESIMPULAN

Dakwah agama telah dimulai sejak Rasul terdahulu dan jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia. Pada hakikatnya agama yang dibawa oleh para Rasul-rasul tersebut disebut Islam, baik agama yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Musa AS, Daud AS maupun Isa AS. Dan Nabi Ibrahim yang dipandang sebagai bapak agama tauhid itu mengaku bahwa ia adalah seorang muslim dan penganut Islam.

Agama yang dibawa oleh para Nabi terdahulu diberikan oleh Tuhan ajaran-ajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka masing-masing kepada umat dimana Rasul itu diutus. Jadi sifat ajaran agamanya masih lokal dan nasional serta terbatas pada jaman tertentu. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, beliau menyampaikan ajaran agama Islam sesuai dengan kemajuan berfikir umat manusia yakni bersifat universal atau internasional untuk seluruh dunia buat segala bangsa dan untuk dianut sepanjang zaman.

Hanya saja sebelum Nabi Muhammad Hijrah ke Madinah beliau menyampaikan ajrannya melalui dua cara yaitu, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, akan tetapi setelah Nabi Muhammad Hijrah beliau menyampaikan ajran dengan terang-terangan hingga Islam berkembang pesat seperti yang kita anut sekarang ini.


DAFTAR PUSTAKA

1. Amahzun, Muhammad, Manhaj Dakwah Rasulullah, Jakarta, Q Ithi Press, 2002.

2. Anshary, Isa, Mujahid Dakwah, Bandung, CV. Diponegoro, 1995.

3. Mukhlas, Imam, Landasan Dakwah Kultural, Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, 2006.

4. Aziz, Abdul, Jelajah Dakwah Klasik Kontemporer, Surakarta, Gama Media, 1997.

5. Firdaus, Panji-panji Dakwah, Jakarta, Pedoman Ilmu Jaya, 1994.

6. Qathani, Ali, Dakwah Islam Dakwah bijak, Jakarta, Gema Insani Press, 1994.



[1] Isa Anshary, Mujahid Dakwah, (Bandung: CV. Diponegoro, 1995), hal. 17

[2] Firdaus, A.N., Panji-panji Dakwah, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1994), hal. 19-20

[3] Imam Mukhlas, Landasan Dakwah Kultural, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006), hal. 1

[4] Imam Mukhlas, Landasan Dakwah Kultural, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006), hal. 2

[5] Abdul Aziz dkk, Jelajah Dakwah Klasik Kontemporer, (Bandung: Gama Media, 2006), hal. 2

[6] Imam Mukhlas, Landasan Dakwah Kultural, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006), hal. 3

[7] Muhammad Amahzun, Manhaj Dakwah Rasulullah, (Jakarta: Q Ithi Press, 2002), hal. 5

[8] Ali Qathani, Dakwah Islam Dakwah bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hal. 110

[9] Ali Qathani, Dakwah Islam Dakwah bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hal. 123

0 komentar: to “ Makalah Ilmu Dakwah